SITUBONDO, realitapublik.id – Peringatan Hari Jadi Besuki (HJB) merupakan perjalanan linier dari perayaan sejarah panjang Kota Tua Besuki. Perayaan sejarah ini dihitung sejak peristiwa babat alas dan pemindahan pusat pemerintahan oleh Raden Bagus Kasim Wirodipuro atau yang dikenal sebagai Ki Pate Alos pada 8 September 1764 M.
Hal tersebut disampaikan oleh tokoh yang berperan saat peringatan HJB ke-251 tahun 2015 sekaligus Ketua Lembaga Solidaritas Peduli Bangsa (LSPB), Sumyadi Yatim Wiyono, Rabu (9/9/2026).
Sumyadi memaparkan, berdasarkan catatan dokumen sejarah, pelaksanaan peringatan HJB ke-251 secara formal pertama kali digelar pada Kamis, 8 September 2015 lalu.
“Sejumlah kegiatan sakral dilaksanakan saat memperingati HJB ke-251 kala itu, di antaranya adalah tradisi napak tilas dan ziarah makam leluhur,” ungkap Sumyadi.
Dalam pelaksanaan prosesi jalan kaki Napak Tilas jejak perjuangan Ki Pate Alos dengan rute bersejarah dari Sepacar menuju Dhelem Tengah.
“Setelah napak tilas selesai, dilanjutkan dengan ziarah dan nyekar bersama ke Makam Ki Pate Alos serta Makam Bupati Tegal Mas. Selain itu, ziarah ke kompleks makam Bupati Situbondo pertama, kedua, dan ketiga yang berada di wilayah Bloro,” urainya.
Menurutnya, tradisi napak tilas dan ziarah ini menjadi fondasi penting dalam mengenalkan sejarah lokal secara masif kepada generasi muda. Pada perayaan tahun 2015 tersebut, area Alun-Alun Besuki dan kawasan bersejarah di Desa Demung mulai diproyeksikan sebagai pusat pelestarian nilai budaya.
“Sejak momen HJB ke-251 itulah, komitmen untuk menjaga status Besuki sebagai Kota Tua dan eks-Ibu Kota Karesidenan terus dirawat secara konsisten, hingga akhirnya menembus usia ke-262 pada tahun ini,” ujarnya.
Sementara itu, Pengurus LSPB yang membidangi sejarah, Halil Budiarto, menambahkan bahwa peringatan HJB adalah bentuk penghormatan kolektif masyarakat terhadap asal-usul daerahnya.
“Momentumnya dimulai sejak peristiwa babat alas dan pengangkatan Ki Pate Alos pada 8 September 1764 M. Gerakan untuk memperingatinya secara formal kemudian dimulai sejak tahun 2015, yakni pada penanda HJB ke-251,” tuturnya.
Sebagai informasi, LSPB di Besuki, Situbondo, merupakan lembaga yang menjadi badan hukum (legal standing) dalam mengawal berbagai kegiatan pelestarian sejarah lokal. Salah satu kontribusi besarnya adalah mengawal penetapan resmi Hari Jadi Besuki, yang merujuk pada momentum pengangkatan Ki Pate Alos sebagai Kepala Kademangan Besuki pada 8 September 1764 silam.(*)
Penulis : Abdul Hakim






