JAKARTA – Menandai usia kematangan yang ke-60 tahun, Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) menggelar konsolidasi pemikiran besar-besaran melalui Simposium Nasional di Gedung DPR/MPR RI, Rabu (9/9/2026). Momentum milad ini menjadi ajang refleksi sekaligus pembuktian kontribusi besar alumni HMI terhadap arah masa depan bangsa.
Saat membuka acara secara resmi, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan apresiasi mendalam terhadap rekam jejak kader-kader hijau hitam. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa alumni HMI senantiasa mengambil peran krusial dalam setiap fase perjalanan umat, bangsa, dan negara Indonesia.
“Alumni HMI memiliki kontribusi yang sangat besar dalam sejarah dan perjalanan bangsa ini. Karena itu, di usia KAHMI yang ke-60, kami berharap simposium nasional ini kembali melahirkan gagasan-gagasan besar yang bermanfaat bagi kemajuan dan persatuan Indonesia,” ujar Ahmad Muzani di hadapan para tokoh dan ratusan peserta.

Konsolidasi Pemikiran Intelektual untuk Kedaulatan
Acara yang bertajuk “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa” ini diinisiasi langsung oleh Koordinator Presidium MN KAHMI, Romo Muhammad Syafii. Romo menjelaskan bahwa angka 60 tahun merupakan penanda penting bagi organisasi untuk memperkuat tanggung jawab moral dan intelektualnya kepada rakyat.
“Di usia ke-60 ini, KAHMI harus terus melahirkan gagasan-gagasan yang memberikan kontribusi nyata. Simposium nasional ini kita gagas sebagai ruang untuk mengonsolidasikan pemikiran dan merumuskan agenda strategis KAHMI ke depan dalam menjawab berbagai tantangan bangsa,” kata Romo Muhammad Syafii.
Romo menambahkan, posisi KAHMI akan tetap konsisten sebagai kekuatan intelektual yang independen. KAHMI berkomitmen menjadi mitra strategis yang konstruktif bagi pemerintah; mendukung penuh kebijakan yang berpihak pada rakyat, namun tetap teguh memberikan kritik dan alternatif kebijakan secara objektif jika arah pembangunan dinilai melenceng.

Rekomendasi Strategis Menuju Pemerintahan Baru
Guna memastikan kontribusi pemikiran tersebut berdampak nyata, seluruh rumusan hasil simposium selama dua hari (9–10 September 2026) akan dihimpun menjadi dokumen rekomendasi strategis. Dokumen ini rencananya bakal diserahkan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto sebagai masukan formal dalam memperkuat agenda kedaulatan nasional.
“Ini adalah bentuk kontribusi konkret KAHMI. Kita tidak ingin sekadar menjadi penonton, tetapi ikut berpikir dan memberikan solusi bagi pembangunan serta masa depan Indonesia,” pungkas Romo Syafii.
Simposium nasional yang sakral ini turut dihadiri hampir 1.000 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Sejumlah tokoh senior dan menteri kabinet juga tampak hadir di hari pertama, di antaranya Ketua Dewan Penasihat MN KAHMI Ir. Akbar Tanjung, Presidium MN KAHMI Ahmad Doli Kurnia, Dewan Penasihat MN KAHMI Fuad Bawazier, serta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.(*)






