REALITAPUBLIK.ID – Bukti kecintaan terhadap tanah air ternyata tertanam kuat dalam identitas kependudukan warga negara. Kementerian Dalam Negeri mencatat ribuan warga memiliki nama unik yang identik dengan simbol negara dan semangat kemerdekaan Indonesia.
Berikut rincian warga pemilik nama bernuansa patriotik tersebut:
- 3.642 penduduk memiliki nama “Merdeka”.
- 1.534 penduduk terdaftar dengan nama “Garuda”.
Nama unik yang identik dengan simbol negara dan semangat kemerdekaan Indonesia tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Teguh Setyabudi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dukcapil 2026 sekaligus Rilis Data Kependudukan Bersih Semester I Tahun 2026, dikutip dari siaran Youtube Dukcapil Kemendagri, Selasa (4/8/2026).
Lebih lanjut, Teguh Setyabudi menyebutkan ada ratusan penduduk yang memiliki nama “Indonesia”.
“Ada 764 penduduk kita yang namanya Indonesia,” ujar Teguh.
Menariknya, nama-nama lokal khas Indonesia kini berada di ambang kepunahan.
Teguh mengungkapkan bahwa nama tradisional seperti Joko, Sutrisno, dan Slamet kini semakin sulit ditemukan pada anak-anak usia 5 hingga 10 tahun, khususnya di Pulau Jawa.
Data kependudukan terbaru mencatat terjadinya pergeseran kiblat pemberian nama yang sangat kontras antar-generasi:
- Generasi Baby Boomer & Gen X: Didominasi nama lokal seperti Slamet (38.262 jiwa), Sutrisno (65.737 jiwa), dan Sulastri (85.550 jiwa).
- Generasi Milenial & Gen Z: Mulai beralih ke nama-nama universal seperti Herman, Aldi, Ardiansyah, dan Sri Wahyuni.
- Generasi Alpha (Modern): Sepenuhnya bergeser ke nama bernuansa religius dan modern seperti Muhamad Al Fatih (29.351 jiwa) dan Aisyah Ayudia (14.143 jiwa).
Menurut Teguh, perubahan ini merefleksikan pergeseran doa dan harapan orang tua zaman sekarang yang tidak lagi sama dengan generasi terdahulu.
“Nama adalah suatu harapan, suatu doa,” ujar Teguh.
Berdasarkan basis data riil milik Dukcapil tersebut menunjukkan dinamika sosial yang dinamis, di mana selera dan tren linguistik masyarakat Indonesia terus berevolusi dalam kurun waktu 80 tahun terakhir.(*)
Penulis : Abdul Hakim






