KH Zainul Mu’in: KH Abdul Wahab Chasbullah Pencetus Pertama Halalbihalal

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 19:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: KH. Zainul Mu’in Husni, Lc., M.H., Rois Syuriah PCNU Kabupaten Situbondo (tengah), dalam acara Halalbihalal, Pelantikan, dan Musker MWC NU Jatibanteng Masa Khidmat 2025-2030 di Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (10/5/2026).

SITUBONDO, realitapublik.id – Halalbihalal telah lama menjadi tradisi melekat bagi masyarakat Indonesia saat Hari Raya Idulfitri tiba. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan halalbihalal sebagai acara maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Lantas, bagaimana asal-usul tradisi unik ini bermula?

 

Kisah sejarah ini diuraikan kembali oleh KH. Zainul Mu’in Husni, Lc., M.H., Rois Syuriah PCNU Kabupaten Situbondo, dalam acara Halalbihalal, Pelantikan, dan Musker MWC NU Jatibanteng Masa Khidmat 2025-2030 di Gedung PRGRI Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (10/5/2026).

Baca Juga :  Satpol PP Kota Pasuruan Copot Banner Sengketa Lahan Kelurahan Bukir, Warga Pertanyakan Keadilan Penertiban!

 

Kiai Zainul memaparkan bahwa halalbihalal pertama kali dicetuskan oleh salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Abdul Wahab Chasbullah, pada tahun 1948. Momentum ini lahir sebagai solusi konkret untuk mendamaikan para elite politik Indonesia yang kala itu sedang dilanda konflik hebat.Pada tahun 1948, Indonesia berada dalam ancaman disintegrasi bangsa yang sangat genting. Selain harus menghadapi ancaman agresi militer Belanda, situasi internal negara diperparah oleh pemberontakan PKI Madiun serta perpecahan mendalam di antara para pemimpin politik yang saling menyalahkan.

 

Melihat situasi negara yang kritis, Presiden Soekarno memanggil KH. Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) ke Istana Negara untuk meminta saran terkait cara merukunkan kembali para pemimpin bangsa. Mbah Wahab kemudian mengusulkan agar diadakan silaturahmi nasional yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.

Baca Juga :  Rekapitulasi Pilkati Serentak TUBABA 2026, Berikut Daftar Kepalo Tiyuh Terpilih 

 

Awalnya, Bung Karno sempat ragu. Menurut sang presiden, istilah “silaturahmi” terdengar terlalu biasa dan ada kekhawatiran momentum tersebut akan diabaikan oleh para tokoh yang sedang berseteru.

 

Menjawab keraguan itu, Mbah Wahab mengusulkan istilah baru, yaitu “Halalbihalal”. Istilah ini dipilih secara filosofis untuk menjembatani persoalan dosa akibat konflik dan permusuhan. Mbah Wahab memandang aksi saling menyalahkan antar-pemimpin adalah sebuah dosa besar.

“Agar para pemimpin negara bisa saling memaafkan tanpa merasa gengsi, kesalahannya harus ‘dihalalkan’ atau dilebur menjadi halal,” ujar Kiai Zainul mengutip pemikiran Mbah Wahab.

Baca Juga :  Polresta Malang Kota bersama Tim Gabungan Sidak THM, 40 Pengunjung Dites Urine

 

Lebih lanjut, Kiai Zainul menjelaskan bahwa halalbihalal menjadi media krusial untuk menyelesaikan urusan hak adami atau kesalahan antar-sesama manusia. Dalam ajaran Islam, dosa kepada Allah SWT bisa diampuni melalui tobat nasuha, namun dosa kepada sesama manusia hanya bisa gugur jika pihak yang bersangkutan saling memaafkan.

 

Berawal dari pertemuan politik di Istana Negara tersebut, gagasan Mbah Wahab sukses mencairkan ketegangan para elite bangsa. Sejak saat itu, halalbihalal diadopsi secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat hingga bertransformasi menjadi tradisi budaya dan keagamaan yang unik.

 

“Halalbihalal merupakan tradisi asli Nusantara yang berhasil menggabungkan esensi nilai silaturahmi keagamaan dengan kearifan lokal, dan ini hanya ada di Indonesia,” pungkas Kiai Zainul.(*)

Berita Terkait

Skandal Video Asusila di MTsN Kota Pasuruan Berujung Pengeroyokan, Pelaku Dikeluarkan dan Larangan Bawa HP
PERNYATAAN SIKAP KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Atas Kasus Anak Down Syndrome Meninggal Dunia Diduga Akibat Bullying di Surabaya
Skandal KUR Fiktif BRI Kepanjen Tembus Rp 2,7 Miliar: Kejari Malang Tetapkan 6 Tersangka, Libatkan Mantri Hingga Perangkat Desa
Diterpa Isu Terima Uang Proyek PJU Desa Selomukti, Ustadz Hamidi Bantah Tegas dan Siap Lapor Polisi
Rekapitulasi Pilkati Serentak TUBABA 2026, Berikut Daftar Kepalo Tiyuh Terpilih 
Konflik Anggota DPRD Malang dan Pak Dur Berakhir Damai, Kasus Tetap Lanjut Berproses
Selundupkan 5 Kg Ganja Lewat Ekspedisi, Petani Asal Pujon Ditangkap Polres Batu
Pilkati Serentak Tubaba 2026, Kapolres dan Forkopimda Tinjau Kesiapan Pengamanan TPS
Berita ini 141 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:27 WIB

Skandal Video Asusila di MTsN Kota Pasuruan Berujung Pengeroyokan, Pelaku Dikeluarkan dan Larangan Bawa HP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:44 WIB

PERNYATAAN SIKAP KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Atas Kasus Anak Down Syndrome Meninggal Dunia Diduga Akibat Bullying di Surabaya

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Skandal KUR Fiktif BRI Kepanjen Tembus Rp 2,7 Miliar: Kejari Malang Tetapkan 6 Tersangka, Libatkan Mantri Hingga Perangkat Desa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Diterpa Isu Terima Uang Proyek PJU Desa Selomukti, Ustadz Hamidi Bantah Tegas dan Siap Lapor Polisi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Rekapitulasi Pilkati Serentak TUBABA 2026, Berikut Daftar Kepalo Tiyuh Terpilih 

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Konflik Anggota DPRD Malang dan Pak Dur Berakhir Damai, Kasus Tetap Lanjut Berproses

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Selundupkan 5 Kg Ganja Lewat Ekspedisi, Petani Asal Pujon Ditangkap Polres Batu

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:12 WIB

Pilkati Serentak Tubaba 2026, Kapolres dan Forkopimda Tinjau Kesiapan Pengamanan TPS

Berita Terbaru