JAKARTA, realitapublik.id — Nilai tukar mata uang Rupiah ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan. Merujuk data pasar sore ini, rupiah terapresiasi 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.892 per dolar AS pada perdagangan Jumat (2/10/2026).
Penguatan mata uang Garuda sejalan dengan tren pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang turut mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,02 persen, peso Filipina menguat 0,39 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,05 persen.
Tren positif ini juga diikuti oleh dolar Singapura yang naik 0,16 persen, yen Jepang menguat 0,31 persen, serta won Korea Selatan yang memimpin penguatan sebesar 0,77 persen. Sebaliknya, dolar Hong Kong menjadi salah satu mata uang Asia yang terkoreksi tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di saat yang sama, mayoritas mata uang utama negara maju juga bergerak menguat terhadap greenback. Euro Eropa mencatatkan kenaikan 0,15 persen, poundsterling Inggris naik 0,12 persen, dolar Australia menguat 0,19 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,37 persen. Adapun dolar Kanada menjadi pengecualian usai melemah sekitar 0,02 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah dan mata uang global dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Bank Central AS (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
“Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia umumnya menguat terhadap dolar AS ditopang oleh penurunan imbal hasil obligasi AS seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Lukman Leong.
Ia menambahkan, para pelaku pasar saat ini juga tengah mengantisipasi rilis data ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls/NFP) yang diproyeksikan bakal menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja. “Investor mengantisipasi data pekerjaan AS NFP malam ini yang diperkirakan akan menunjukkan angka pertumbuhan yang melandai,” jelasnya.
Selain faktor eksternal, Lukman menilai langkah intervensi dari Bank Indonesia (BI) di pasar uang masih menjadi benteng utama dalam menopang kestabilan mata uang domestik. “BI juga konsisten melakukan intervensi di pasar guna menjaga dan menguatkan kestabilan rupiah,” pungkasnya.
Meskipun rupiah mencatatkan apresiasi hari ini, konsistensi penjagaan stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama guna menopang momentum pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Fery Eka spt)






