Foto: Halil Budiarto
SITUBONDO, realitapublik.id – Tradisi lisan dan kearifan lokal dinilai sebagai instrumen krusial yang tidak dapat diabaikan dalam penelusuran sejarah bangsa. Mengingat sifatnya yang rentan hilang, Lembaga Solidaritas Peduli Bangsa (LSPB) mendesak adanya langkah konkret untuk mendokumentasikan serta mengkaji secara kritis kisah-kisah para leluhur di wilayah Curahsuri demi menjaga keberlanjutan identitas generasi muda.
Halil Budiarto, Pengurus Lembaga Solidaritas Peduli Bangsa (LSPB) Bidang Sejarah, menegaskan bahwa langkah penyelamatan ini sudah sangat mendesak. Menurutnya, sejarah lokal yang tidak dibukukan atau diarsipkan secara sistematis memiliki risiko tinggi untuk lenyap tanpa bekas bersama berjalannya waktu.
“Saat para penutur sejarah dan tetua adat wafat, ingatan kolektif mengenai asal-usul daerah tersebut terancam ikut terkubur. Kita berpacu dengan waktu sebelum ingatan para penutur ini hilang sepenuhnya,” ujar Halil saat memberikan keterangan tentang Sejarah Curahsuri.
Aktivis yang juga Guru Sejarah di SMAN 1 Suboh ini mengatakan, melalui proses dokumentasi yang terstruktur dapat membantu mentransformasikan kisah-kisah lisan tersebut menjadi literatur tertulis maupun konten digital edukatif.
“Upaya ini bukan sekadar mengumpulkan cerita masa lalu, melainkan sebuah proses penyaringan dan verifikasi kritis agar narasi sejarah yang diwariskan kepada masyarakat tetap akurat dan objektif,” tuturnya.
Kata Halil, bagi generasi mendatang, dokumentasi ini akan berfungsi sebagai jangkar identitas di tengah derasnya arus globalisasi. Memahami rekam jejak, nilai moral, dan perjuangan para pendahulu di tanah kelahiran sendiri diyakini dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan karakter yang kuat pada diri pemuda setempat.
“Merawat kearifan lokal pada hakikatnya adalah komitmen untuk menjaga akar budaya, sekaligus bentuk penghormatan tertinggi terhadap jejak perjuangan para leluhur. Kami berharap pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi menyediakan wadah dan fasilitas agar program penyelamatan sejarah lisan ini berjalan berkelanjutan,” tutup Halil.(*)






