Ribuan Warga Padati Selamatan Desa dan Larung Sesaji Danau Ranu Grati, Rawat Tradisi Leluhur

- Jurnalis

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

PASURUAN realitapublik.id – Warga Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, kembali menggelar tradisi tahunan Selamatan Desa dan Distrik pada Sabtu (11/7/2026). Gelaran warisan leluhur ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan Danau Ranu yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di empat desa sekitarnya, yaitu Grati Tunon, Dawe, Kalipang, dan Parasan.

Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan istighosah bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi Larung Sesaji ke tengah Danau Ranu. Tradisi larung ini sekaligus menjadi kilas balik sejarah peresmian Danau Ranu sebagai destinasi wisata pada masa lampau, sembari menampilkan kekayaan budaya khas Kecamatan Grati.

 

Memasuki malam hari, suasana semakin semarak dengan digelarnya arak-arakan ancak (sesaji hasil bumi). Rombongan pawai dibuka oleh Kepala Desa Ranuklindungan beserta jajarannya, lalu disusul oleh ratusan warga yang terbagi dalam 80 tim peserta dengan iringan dentuman sound horeg.

 

Beragam pertunjukan seni tradisi turut menyemarakkan pawai yang mengambil titik awal dari Pendopo Kantor Desa Ranuklindungan menuju Balai Wisata Danau Ranu tersebut. Mulai dari tari-tarian tradisional, parade pakaian adat Jawa, kostum nelayan dan petani, kesenian jaranan, hingga teatrikal legenda masa lalu yang diperagakan dengan apik oleh pemuda-pemudi setempat. Ribuan warga tampak menyemut di sepanjang rute untuk menyaksikan hiburan tahunan ini.

Baca Juga :  Kelangkaan BBM Lumpuhkan Pelayanan SPBU di Sumut, Pertamina Diminta Bertanggung Jawab

 

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya tokoh budayawan Kyai Ayi Suhaya dan Kyai Udik Suharto, Sekretaris Kecamatan Grati, Kapolsek, Danramil Grati, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, serta jajaran tokoh agama dan tokoh masyarakat (toga-tomas).

 

Mengawali sambutan, tokoh budayawan sekaligus tamu kehormatan, Ky Ayi Suhaya, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya bersyukur kepada Sang Pencipta atas berkah Danau Ranu. Menurutnya, Danau Ranu bukan sekadar mitos, melainkan bukti nyata kebesaran Allah SWT yang harus dijaga kelestariannya.

 

Namun, Ky Ayi juga memberikan catatan kritis terkait sepinya pengunjung Danau Ranu, bahkan pada hari libur seperti hari Minggu. Ia menilai hal ini terjadi akibat manajemen pengelolaan yang kurang optimal, sekaligus menyayangkan ketidakhadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekda, maupun kadis pariwisata Kabupaten Pasuruan dalam acara ini.

 

“Kami berharap kepada Bapak Bupati, Dinas Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Pasuruan agar pengelolaan Danau Ranu ini bisa dialihkan kepada masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Jika dikelola oleh Bumdes di bawah naungan pemerintah daerah, pemuda setempat bisa dilibatkan dalam berwirausaha,” ujar Kyai Ayi.

Baca Juga :  Rupiah Menguat Signifikan, Tekan Dolar AS hingga Level Rp17.879

 

Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab. “Ini bisa menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Desa) demi kesejahteraan lahir batin warga Ranuklindungan dan Grati,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Ky Ageng Udik Suharto, tokoh budayawan yang juga putra daerah, memaparkan besarnya potensi Danau Ranu yang kini menjadi lokasi budidaya berbagai jenis ikan, seperti nila, lele, udang, dan patin. Salah satu ikon hasil tangapan nelayan setempat adalah empok (udang rebon/amat kecil). Selain itu, Danau Ranu menjadi sumber mata air yang mengalir ke tiga sungai di Kecamatan Grati, Lekok, dan Rejoso, yang sangat bermanfaat bagi irigasi lahan pertanian.

 

“Danau Ranu ini sangat bermanfaat, baik dari hasil ikan maupun airnya bagi petani. Pandangan saya, pemerintah harusnya lebih memahami potensi ekonomi dan partisipasi masyarakat di sini. Jika ingin difokuskan untuk wisata ya wisata, kalau untuk budidaya ikan ya benar-benar untuk kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan harus terjun langsung ke lapangan. Itu harapan kami sebagai warga,” pungkas Ky Udik.

Baca Juga :  Pemkot Pasuruan Gandeng BRI untuk Bayar PBB, Pengamat Desak Perda Tegas Bagi Pengusaha Menengah ke Atas

 

Usai sambutan dari para pemangku kebijakan, panggung hiburan kembali diguncang oleh penampilan seni tari dan kisah mistis Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

 

Puncak keseruan yang paling dinantikan warga adalah teatrikal kolosal mengenai legenda asal-usul Danau Ranu. Kisah ini menceritakan pertapaan Begawan Nyampo dan Endang Sukarni (putri Raja Mataram) yang melahirkan bayi berwujud ular naga bernama Jaka Baru atau Baru Klinting. Pertunjukan ini dikemas secara spektakuler oleh puluhan warga yang menampilkan replika ular naga raksasa dan naga terbang, memicu decak kagum penonton.

 

Rangkaian acara yang berlangsung semarak ini ditutup dengan tradisi grebeg ancak, di mana warga saling berebut hasil bumi dengan penuh suka cita, dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba peraga kostum terbaik berhadiah total puluhan juta rupiah. Seluruh gelaran festival budaya ini berakhir pada pukul 24.00 WIB dalam situasi yang aman, tertib, dan kondusif.

Penulis : Indri

Editor : Saichu

Berita Terkait

Kelangkaan BBM Lumpuhkan Pelayanan SPBU di Sumut, Pertamina Diminta Bertanggung Jawab
Rupiah Menguat Signifikan, Tekan Dolar AS hingga Level Rp17.879
Pemkot Pasuruan Gandeng BRI untuk Bayar PBB, Pengamat Desak Perda Tegas Bagi Pengusaha Menengah ke Atas
Dongkrak Daya Beli Warga, Dinsos Batang Salurkan BLT DBHCHT 2026 Secara Bertahap
BOP RT Rp25 Juta di Kota Semarang Segera Cair Akhir Juni 2026
Penumpang BRT Trans Jateng Tembus 4,15 Juta, Koridor Semarang-Bawen Jadi Rute Terpadat
Sengkarut Warisan H. Slamet Sijambe: Istri Kedua Diduga Palsukan Dokumen Ahli Waris
Menengok Potensi Pasar Karangketug, Pusat Ekonomi dan Ruang Kelestarian Budaya Jawa
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:58 WIB

Ribuan Warga Padati Selamatan Desa dan Larung Sesaji Danau Ranu Grati, Rawat Tradisi Leluhur

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:39 WIB

Kelangkaan BBM Lumpuhkan Pelayanan SPBU di Sumut, Pertamina Diminta Bertanggung Jawab

Senin, 29 Juni 2026 - 13:02 WIB

Rupiah Menguat Signifikan, Tekan Dolar AS hingga Level Rp17.879

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:18 WIB

Pemkot Pasuruan Gandeng BRI untuk Bayar PBB, Pengamat Desak Perda Tegas Bagi Pengusaha Menengah ke Atas

Minggu, 21 Juni 2026 - 07:50 WIB

Dongkrak Daya Beli Warga, Dinsos Batang Salurkan BLT DBHCHT 2026 Secara Bertahap

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:29 WIB

BOP RT Rp25 Juta di Kota Semarang Segera Cair Akhir Juni 2026

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:11 WIB

Penumpang BRT Trans Jateng Tembus 4,15 Juta, Koridor Semarang-Bawen Jadi Rute Terpadat

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:28 WIB

Sengkarut Warisan H. Slamet Sijambe: Istri Kedua Diduga Palsukan Dokumen Ahli Waris

Berita Terbaru