BANDAR LAMPUNG – Prof. Dr. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., dikenal memiliki rekam jejak yang panjang dan matang dalam dunia pendidikan, pergerakan organisasi kemahasiswaan, hingga birokrasi pemerintahan pusat. Pengalaman komprehensif ini menjadikannya salah satu figur akademisi dengan integritas dan kontribusi nyata yang diakui secara nasional.
Alumni Universitas Lampung (Unila), Aprohan Saputra, M.Pd., mengungkapkan bahwa profil Prof. Warsito dibentuk oleh perjalanan intelektual yang kokoh sejak masa muda. Perjalanan dalam dunia aktivisme Warsito telah dimulai sejak menjadi mahasiswa di Malang, Jawa Timur. Saat menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Warsito dikenal aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Bahkan, Warsito tercatat sebagai salah satu pendiri PMII Komisariat Eksakta Universitas Brawijaya. Tradisi diskusi, gerakan mahasiswa, serta pengabdian sosial di masa kuliah tersebut menjadi ruang pembentukan karakter penting sebelum dirinya memasuki dunia akademik.
Setelah berkiprah di Lampung, Warsito juga dikenal aktif dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, serta tetap menjaga jejaring sosialnya di Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII).
“Beliau memiliki pengalaman panjang dalam organisasi. Dari PMII, Muhammadiyah, hingga IKAPMII. Rekam jejak ini menunjukkan beliau memiliki pengalaman luas dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat,” ujar Aprohan, Senin (2/11/2026).
Karier Prof. Warsito kian cemerlang saat dirinya dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis di pemerintahan pusat. Di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), ia pernah menduduki posisi sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama.
Kinerjanya yang teruji membawa Warsito dipercaya mengemban tugas berikutnya sebagai Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga, hingga pada tahun 2025 diamanahi jabatan sebagai Deputi Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK.
Sebelum berkiprah di Jakarta, Warsito telah mendedikasikan ilmunya di Universitas Lampung sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) periode 2016–2019. Pengalaman diplomasinya juga terasah saat ditunjuk menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, Prancis, periode 2019–2022.
Salah satu kontribusi paling monumental dari Prof. Warsito adalah keterlibatan aktifnya dalam agenda penguatan moderasi beragama di tingkat nasional. Ia menjadi salah satu pejabat kunci yang mengoordinasikan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama.
Melalui kebijakan ini, Warsito konsisten membangun kehidupan beragama yang toleran, menghargai keberagaman, serta menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Dalam berbagai forum resmi, ia selalu menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian untuk menjaga persatuan bangsa melalui nilai-nilai moderasi.
Oleh karena itu, Aprohan menyayangkan adanya segelintir narasi negatif di ruang digital yang mencoba mengaitkan sosok Prof. Warsito dengan paham radikal atau ekstrem di tengah momentum Kontestasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Unila periode 2027–2031.
Menurutnya, publik harus melihat rekam jejak pengabdian nasional tersebut secara utuh dan objektif agar tidak terjebak dalam upaya pembunuhan karakter yang tidak mendasar.
“Bagaimana mungkin rekam jejak pengabdian seseorang dalam agenda penguatan moderasi beragama di tingkat nasional diabaikan begitu saja? Publik harus melihat persoalan ini secara utuh. Jika ingin mengkritik dalam alam demokrasi kampus, kritiklah gagasan, program kerja, kapasitas kepemimpinan, maupun rekam jejaknya berdasarkan fakta, bukan memberikan stigma tanpa bukti,” tegas Aprohan.(*)
Penulis : Rodi Sandra
Editor : Redaksi






