Sikap dan Framing Negatif atas Pesantren: Sebagai Simbol Pendidikan Karakter Dunia Pendidikan

- Jurnalis

Kamis, 16 Oktober 2025 - 08:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa hari yang lalu, salah satu stasiun televisi nasional Trans 7 menayangkan sebuah liputan yang menyorot kehidupan pesantren. Dalam tayangan tersebut, publik disodorkan narasi visual yang menggambarkan pesantren sebagai ruang feodalisme di mana ada kiai menerima amplop dari santri.

 

Lalu dinarasikan, bahwa kiai itu mobilnya mewah, sarungnya mahal. Para santri harus jongkok atau ngesot di hadapan kiai, hingga kerja bakti atau ro an dianggap sebagai bentuk perendahan martabat.

 

Framing semacam ini tentu memantik kegelisahan banyak kalangan, terutama keluarga besar pesantren.
Masalahnya bukan semata pada fakta visual yang disajikan, melainkan pada paradigma yang melatarinya. Media, dengan kacamata eksternal (paradigma etik), melihat fenomena pesantren dengan logika institusi modern sekuler: hubungan guru-murid dipahami semata-mata dalam kerangka relasi pedagogik formal, seperti sekolah umum. Padahal, dunia pesantren memiliki paradigma yg berbeda, yakni cara pandang dan sistem makna yang lahir dari dalam tradisi itu sendiri.

Baca Juga :  Masuk SD Tidak Harus 7 Tahun dan Tanpa Ijazah TK, Ini Aturan Terbaru SPMB 2026

 

Maka dalam konteks ini, ada makna yang dihidupi sebenarnya.
Pendekatan fenomenologi mengajarkan bahwa untuk memahami sebuah realitas sosial, seseorang harus masuk ke dalam horizon makna para pelakunya. Dalam dunia pesantren, relasi kiai dan santri bukanlah relasi transaksional . Ia adalah relasi spiritual, keilmuan.

Baca Juga :  Mahasiswa Hukum Unmer Pasuruan Perkuat Peran Kritis Lewat Diskusi “Hukum Bicara Lewat Opini”

 

Menghormati kiai dengan cara duduk sopan, “ngesot” (meski ini ngesot ini tdk berlaku pada semua pesantren), atau mencium tangan bukanlah tanda perendahan diri, melainkan ekspresi ta‘zhim (sebuah bentuk penghormatan) yang dihidupi sebagai nilai spiritual dan rasa cinta kepada guru.

 

Jika fenomena ini dipahami dengan paradigma luar dan liar, tentu akan terlihat “feodal” atau “tidak egaliter”. Namun bila dilihat dari dalam, maknanya justru sangat luhur. Sebab kiai diposisikan sebagai mursyid (pembimbing ruhani) dan pewaris ilmu, sementara santri berperan sebagai murid yang mengabdi untuk mencari keberkahan ilmu, bukan sekadar ijazah..

Baca Juga :  Bupati Lampung Utara Bahas Program Sekolah Rakyat Bersama Menteri Sosial RI

 

Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga ruang reproduksi nilai-nilai sosial dan spiritual. Tradisi kerja bakti (ro’an) bukanlah perintah jongos, melainkan pembiasaan gotong royong, tanggung jawab kolektif, dan adab melayani. Lagi pula ro’an (kerja bakti) itu biasa utk membersihkan kamar mandi dan halaman pesantren supaya bersih. Kalau ada sebagian yang ikut bantu kiai, biasanya mereka santri khusus, mereka dibebaskan syahriahnya atau ditanggung makan minumnya oleh kiainya. Ini yang tidak dimengerti media atau orang di luar pesantren.(*)

 

Berita Terkait

Masuk SD Tidak Harus 7 Tahun dan Tanpa Ijazah TK, Ini Aturan Terbaru SPMB 2026
Mahasiswa Hukum Unmer Pasuruan Perkuat Peran Kritis Lewat Diskusi “Hukum Bicara Lewat Opini”
Pendaftaran Beasiswa Santri Pemprov Jateng 2026 Masih Dibuka, 825 Orang Telah Mendaftar
SPMB Jatim 2026 SMAN/SMKN Dimulai, Suli Da’im Minta Ortu Pahami Detail 4 Tahapan
Investasi Cerdas Masa Depan: ASN Batang Donasikan 8.500 Buku Lewat Gerakan “Sak Minggu Sak Buku”
Bupati Lampung Utara Bahas Program Sekolah Rakyat Bersama Menteri Sosial RI
Predator Berkedok Kiai di Pati Ditetapkan Tersangka, Diduga Cabuli 50 Santriwati Yatim dan Dhuafa
Peringati Hardiknas 2026, Tubaba Fokus pada Kesejahteraan Guru dan Pembelajaran Mendalam
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:25 WIB

Masuk SD Tidak Harus 7 Tahun dan Tanpa Ijazah TK, Ini Aturan Terbaru SPMB 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:03 WIB

Mahasiswa Hukum Unmer Pasuruan Perkuat Peran Kritis Lewat Diskusi “Hukum Bicara Lewat Opini”

Rabu, 20 Mei 2026 - 20:52 WIB

Pendaftaran Beasiswa Santri Pemprov Jateng 2026 Masih Dibuka, 825 Orang Telah Mendaftar

Senin, 18 Mei 2026 - 16:44 WIB

SPMB Jatim 2026 SMAN/SMKN Dimulai, Suli Da’im Minta Ortu Pahami Detail 4 Tahapan

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:24 WIB

Investasi Cerdas Masa Depan: ASN Batang Donasikan 8.500 Buku Lewat Gerakan “Sak Minggu Sak Buku”

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:38 WIB

Bupati Lampung Utara Bahas Program Sekolah Rakyat Bersama Menteri Sosial RI

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:40 WIB

Predator Berkedok Kiai di Pati Ditetapkan Tersangka, Diduga Cabuli 50 Santriwati Yatim dan Dhuafa

Senin, 4 Mei 2026 - 16:36 WIB

Peringati Hardiknas 2026, Tubaba Fokus pada Kesejahteraan Guru dan Pembelajaran Mendalam

Berita Terbaru